BU

Jumat, 03 Februari 2012

BU atau biasa dikenal orang dengan kata BUTUH UANG!!!

kemarin waktu lagi asik - asiknya denger kuliah semester pendek tiba - tiba dapet kabar kalo yang Skripsi nya masih "TUNDA" harus bayar SPP semester 8. dan hari kemarin itu hari terakhir. Ugh,,, langsung galau akut deh.
padahal cuman skripsi doang sih. itupun insya allah maret juga udah selesai. tapi ya mau gimana lagi. Terpaksanya pake duit tabungan deh.

Abis jumatan, dengan duit 1.150.000 di dompet langsung capcuss ke bank permata di Slamet Riyadi Solo. alhamdulillah tidak terlalu ramai. Tapi bayarnya disuruh kolektif ternyata dan saya yang suruh ngumpulin. Langsung berlagak ala debt collector. Setelah ngurus sana - sini akhirnya semuanya selesai juga sih,,,
Fiuhh,,,,
untung dibantuin mbak - mabk permata yang cantik - cantik. *make up bisa melakukan banyak hal.

Masih galau juga ini sebenernya. banyak hal yang harus dilakukan.
Bener kata pak tung desem waringin "Investasi terbaik itu investasi leher ke atas". jadi kalo masih punya waktu, tenaga, dan uang mending dipake untuk pendidikan. Kalo jadi pinter kan hidupnya bakal jauh lebih enak.

Anyway, entah kenapa solo jadi dingin. Berasa di antartika. *tarik selimut

Gangguan Paru pada Lingkungan Kerja:

Jumat, 06 Januari 2012


Penyakit paru lingkungan adalah berbagai jenis penyakit paru yang terjadi akibat individu - individu yang hidup di area lingkungan tertentu dan menghirup udara yang sudah tercemari oleh bahan - bahan yang berbahaya bagi kesehatan (beberapa macam gas, partikel, bahan - bahan toksis, berbagai macam debu dan sebagainya). Lingkungan tertentu tadi termasuk tempat kerja bagi para pekerja suatu pabrik dimana pabrik tersebut mengeluarkan bahan - bahan yang mencemari lingkungan kerja. Penyakit paru tertentu dan mempunyai ciri dimana penyakit tersebut mengalami eksaserbasi atau memberat saat individu berada di tempat kerja dan berkurang atau hilang saat meninggalkan tempat kerja disebut penyakit paru kerja. Misalnya, serangan asma bronkial selalu timbul saat individu berada di tempat kerja dan hilang (berkurang) setelah meninggalkan tempat tersebut disebut asma kerja (occupational asthma).

Respons paru terhadap pencemaran udara napas tadi bervariasi karena ada berbagai faktor (risiko) ikut berpengaruh. Demikian pula perjalanan penyakit maupun kelainan fisik yang terjadi juga bervariasi tergantung beberapa faktor.

Beberapa faktor determinan etiologi dari penyakit paru lingkungan antara lain:

1. Jenis Polutan ( gas, asap, debu inorganik dan anorganik, bahan toksis dan sebagainya)

2. Intensitas dan lamanya paparan.

3. Konsentrasi bahan polutan di udara lingkungan/ tempat kerja

Kelainan fisis paru yang dijumpai pada pemeriksaan fisik pasien adalah bervariasi, mengingat perubahan fisis individu terpapar debu inorganik dapat bervariasi. Hal ini jelas karena debu inorganik yang dikeluarkan oleh suatu pabrik suatu saat dapat bermacam - macam komposisinya. Kelainan fisik yang sering dijumpai misalnya:

1. Suara mengi, ekspirasi diperpanjang, ronki kering menggambarkan adanya obstruksi saluran nafas.

2. Ronki basah, batuk dan demam, menggambarkan adanya infiltrat (pneumonia/ pneumonitis).

3. Keredupan sebagian toraks, restraksi interkosta, suara napas mengurang, mungkin terdapat fibrosis paru.

Penyakit paru lingkungan yang disebabkan oleh inhalasi kronis debu inorganik ataupun bahan - bahan partikel yang berasal dari udara lingkungan atau tempat kerja disebut pneumokoniasis. Yang menimbulkan pneumokoniosis kebanyakan adalah debu asbes, silika, batu - bara, berilium, bauksit, besi/ baja dan lain - lain. Sesudah debu inorganik dan bahan partikel terinhalasi akan melekat pada permukaan mukosa saluran nafas karena tempat tersebut basah sehingga mudah ditempeli debu.

Pada awalnya paru memberikan respons berupa inflamasi dan fagositosis terhadap debu oleh makrofag alveolus. Makrofag memfagositosis debu dan membawa partikel debu ke bronkiolus terminalis. Di situ dengan gerak mukosiliar debu diusahakan keluar dari paru. Sebagian partikel debu diangkut ke pembuluh limfe sampai limfonodi regional di hilus paru. Bila paparan debu banyak, dimana gerak mukosiliar sudah tidak mampu bekerja, maka debu/ partikel akan tertumpuk di permukaan mukosa saluran nafas. Hingga akhirnya partikel debu akan tersusun membentuk anyaman kolagen dan fibrin. Hal tersebut akan menyebabkan saluran nafas menjadi kaku dan compliance paru akan menurun. Sesudah terjadi pneumokoniosis (paparan debu sudah hilang) maka fibrosis paru yang sudah terjadi tidak dapat hilang.

Debu silika mempunyai sifat yang lain. Debu silika yang terhirup udara nafas sampai di mukosa saluran nafas yang terfagositosis oleh makrofag tadi dapat memberikan efek toksis. Makrofag selanjutnya akan mengalami disintegrasi dan mengeluarkan bahan - bahan kimia yang dapat mengaktifkan makrofag yang lain. Bila makrofag baru (aktif) dan memfagositosis partikel debu silika, dia akan mengalami proses serupa dan seterusnya. Karena makrofag banyak rusak, menyebabkan daya tahan individu berkurang, dan mungkin inilah yang menyebabkan pasien silikosis mudah terinfeksi kuman tuberkulosis dan terbentuk siliko-tuberkulosis.

Beberapa partikel debu (asbes, silika, batu - bara) mempunyai kemampuan menembus interstisium. Dengan lanjutnya penyakit, alveolus dan kapiler paru yang berdekatan menjadi rusak dan diganti fibrosis atau struktur seperti kista. Beberapa kista yang terbentuk, masing - masing berdiameter 1 cm, membentuk bangunan seperti sarang lebah. Pada kasus berat dan umumnya yang terjadi seperti asbestosis terjadi penebalan fibrotik dan kalsifikasi pleura membentuk fibrocalcific pleural plaques. Kelainan patologis ini sering juga mengenai diafragma. Beberapa bahan iritan dalam lingkungan ada pula yang bersifat karsinogenik.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pneumokoniosis menimbulkan penyakit paru restriktif. Oleh karena debu inorganik dan bahan - bahan partikel dapat tertumpuk di saluran nafas kecil dan dapat menimbulkan imflamasi kronis atau pembengkakan mala dapat terjadi obstruksi bronkus atau timbul penyakit paru obstruktif. Dapat pula pada suatu kasus pneumokoniosis terdapat kombinasi kelainan obstruktif dan restriktif.

Sumber : Ilmu Penyakit Dalam FKUI, PAPDI

Evaluasi diri part #1 : Satu - satunya yang berhak mengevaluasi kita adalah diri kita sendiri

Kata evaluasi sudah sering kita dengar. Bahkan sejak duduk di bangku SD dengan seragam putih merah dan tas gendong. Biasanya berkorelasi erat dengan Ulangan, THB, UUB maupun ujian catur wulan. Hayo, masih ingat istilah "catur wulan" gak?

Atau jaman - jaman masih ngerjain LKS. Pasti di halaman belakangnya ada bagian Evaluasi. Kalau waktu saya SD(SD saya di jogja) LKS yang terkenal tu namanya "ULTRA". Itu bagus banget dari bobot ma cara njelasinnya.

Nah, sejak dulu kita terajarkan untuk selalu di evaluasi oleh guru/ orang tua kita. Misal ada PR atau ulangan matematika yang ngoreksi guru/ ortu kita. Jadi terkesan bahwa orang yang berhak untuk mengevaluasi hasil kegiatan "hanya"lah orang - orang yang lebih tua, lebih bijak, atau lebih tahu dari diri kita.

Untuk konteks akademis saya rasa tidak masalah. Memang mereka yang lebih tahu dan yang bertanggung jawab atas pembelajaran kita.

Tapi, pernahkah anda bertanya, " Bagaimana seandainya kita sendiri yang mengevaluasi diri kita sendiri ?"

Hal inilah yang ingin saya bahas disini.

Melakukan evaluasi diri bisa dibilang gampang - gampang susah. Dibilang gampang karena sejatinya kita sering melakukannya. Dibilang susah karena kita jarang sekali menyadarinya. Padahal jika kita bisa membuat evaluasi diri ini menjadi sesuatu yang berkesinambungan bukan tidak mungkin produktivitas kita bisa meningkat hingga berkali - kali lipat.

Secara garis besar kegiatan evaluasi terdiri dari review dan pembandingan. Review adalah kegiatan melihat kembali suatu kejadian. Pembandingan adalah kegiatan membandingkan kondisi ideal/ kondisi yang benar dengan kondisi yang ada.

Mari kita ambil contoh kegiatan seorang guru yang mengevaluasi/ mengoreksi ujian muridnya. Yang pertama kali dilakukan oleh sang guru tentu saja adalah melihat kembali hasil pekerjaan muridnya. Nomor demi nomor, soal demi soal. Kemudian beliau membandingkan antara jawaban yang benar dengan jawaban muridnya. Dari situ beliau bisa tahu tingkat kompetensi muridnya.

Dengan begitu kita bisa tahu point - point dari pekerjaan kita yang perlu diperbaiki.

Tetapi akan terasa kurang imbang jika kita hanya melihat dari kekurangan saja. Oleh karena itu dalam langkah mengevaluasi diri kita perlu menambah satu lagi. Yaitu pembelajaran.

Pembelajaran inilah yang akan menjadikan langkah evaluasi diri ini akan jauh menambah produktivitas kita. Jadi setelah me review kegiatan yang kita lakukan, akan lebih baik jika kita juga mencari pembelajaran apa saja yang bisa kita ambil. Sesimpel dan semudah itu sebenarnya. Dan akan lebih baik lagi jika anda konsisten melakukannya. Evaluasi memang dimaksudkan agar kita tetap "Keep on the track". Sehingga ke evaluasi akan menjadi lebih efektif kalau dilakukan dalam fokus yang lebih kecil tapi konsisten. Evaluasi yang dilakukan tiap hari akan lebih efektif daripada evaluasi yang dilakukan tiap minggu. Untuk penjelasan lebih lanjut akan saya jelaskan di notes selanjutnya. *Supaya tidak terlalu mbleber kemana - mana. ^^

Kemudian, kenapa diri kita sendiri yang harus melakukan evaluasi ?

Ya, karena yang paling tahu permasalahan dan kondisinya adalah diri kita sendiri. Dan solusi terbaik tentu saja dari diri kita. Manfaat lainnya adalah agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu kejadian dalam hidup kita. Bisa juga agar kita tetap bersyukur jika mendapat nikmat.

Melakukan evaluasi secara teratur membuat kita bisa tetap bersyukur dan mengambil banyak pelajaran jika mendapat suatu masalah atau musibah. Kita juga terhindar dari sifat sombong dan takabur saat mendapat sebuah nikmat yang tak diduga. Dengan melihat kembali sebuah permasalahan tentu saja akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tindakan kita dan apa yang akan kita lakukan.

Melakukan evaluasi diri juga akan sangat membantu kita bertindak sesuai dengan kondisi yang ada. Seperti yang kita tahu bahwa ketika kita mengevaluasi diri kita sendiri kita akan mengambil sudut pandang orang ketiga. Artinya, kita melihat secara objektif tindakan apa yang sudah kita lakukan. Dengan begitu kita bisa lebih bijak dalam melihat suatu permasalahan yang kita alami. Tanpa ada perasaan gengsi, emosi, takut, atau semacamnya.

Contoh kasusnya seperti ini :

Ini kisah saya sendiri mungkin sekitar setahun yang lalu. Cukup bagus untuk dijadikan pembelajaran.

Jadi, waktu itu saya ditugasi untuk menjadi layouter majalah kampus. Tetapi karena memang jumlah orang yang bisa me-layout itu sedikit maka pekerjaan tersebut memakan waktu yang lama. Kemudian saya mengajak/ minta bantuan dari beberapa teman saya. Bahkan mereka sampai rela menginap di kampus. Tapi karena waktu itu saya tidak memberi arahan yang jelas akhirnya mereka hanya main game saja semalaman. Dan saya tetap mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri. Bahkan hingga jam 5 pagi.

Waktu itu saya merasa cukup kesal karena teman - teman saya tidak peduli. Meski saya juga menyadari mereka sebenarnya sangat ingin membantu tapi bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya saya merasa mengerjakan pekerjaan itu sendirian dan malah capek sendiri.

Itu dulu,,,,
tapi setelah saya melakukan evaluasi terhadap diri saya sendiri, akhirnya saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan tersebut. Kalau dilihat secara objektif sebenarnya banyak hal yang bisa diperbaiki dari diri saya terlebih dahulu. Dengan kemampuan layout yang cukup lumayan (Pada jaman itu,,,) akan lebih baik jika sebelum saya menerima pekerjaan layout tersebut saya mengajari beberapa orang terlebih dahulu. Kemudian saya juga bisa meminta untuk dibuatkan tim khusus yang akan berkonsentrasi di bidang layouting. Sehingga beban pekerjaan tidak terlalu berat. Dan juga jangan terlalu idealis dan sombong bahwa kita bisa melakukan semuanya sendiri. Mengkomunikasikan dengan orang lain akan sangat membantu karena akan membuka peluang saya untuk mendapat bantuan teknis. Jadi kita bisa mengerjakan pekerjaan layout tersebut bareng - bareng dan mungkin bisa main game bareng juga.

Intinya adalah, dengan kita mengevaluasi diri kita sendiri akan membuat persepsi yang jauh lebih baik tentang suatu permasalahan. Karena solusi yang terbaik tentu saja berasal dari diri kita sendiri. Logikanya, bagaimana kita bisa menghakimi atau mengevaluasi orang lain jika kita sendiri tidak bisa atau terlalu sombong untuk mengakui kekurangan dan belajar dari tindakan kita sendiri. Lagipula manusia memang tidak ada yang sempurna dan karena itulah manusia bisa belajar dan mengembangkan diri dengan ketidaksempurnaannya. Saya sendiri juga masih banyak belajar untuk bisa mengenali diri sendiri kok. ^^

Dan tentu saja,,,, dengan mengevaluasi diri kita sendiri akan membuat kita menjadi jauh lebih SADAR SESADAR - SADARNYA.

SALAM SADAR!!

Tetap sehat saat lebaran haji

Minggu, 06 November 2011

Nah, tanggal 6 ini pasti lagi momen - momennya idul Qurban nih.
Berarti makanan sehari - hari bakal banyak daging dong. kalo gak Kambing ya sapi.

Padahal, yang namanya daging - dagingan tu denger - denger bisa bikin macem - macem penyakit kan yak.

Berikut beberapa tips agar tetap sehat di hari raya :

1. Pilih jenis masakan yang tepat.
Daging bisa diolah menjadi bermacam - macam masakan.Bisa Jadi gulai, tongseng, sate, sop, dan sebagainya. Olahan yang tepat untuk kesehatan adalah sop. Jumlah kalori pada sop akan menjadi lebih sedikit karena adanya air dan sayuran.

2. Perbanyak buah dan sayuran.
Terutama buah - buahan dan sayuran yang mengandung banyak air. selain mengandung berbagai macam vitamin, buah dan sayuran tersebut mengandung serat yang bisa membantu menetralisir lemak. Sekedar tambahan saja mentimun, semangkan, dan seledri bisa dijadikan pilihan utama. karena berkhasiat menurunkan tekanan darah.

3. Kurangi makanan manis dan berlemak
tiap hari aja udah makan daging. gak usah nambah yang aneh - aneh deh,,,

4. Lakukan olahraga ringan
yang namanya status gizi itu adalah keseimbangan antara input dan output. jadi biar kita gak kelebihan status gizi alias obesitas, makanya jangan lupa olahraga yak. Joging pagi 30 menit udah lumayan cukup lah,,,,

Milikilah tujuan hidup, dan bertanggung jawablah

Rabu, 02 November 2011

Milikilah tujuan hidup, dan bertanggung jawablah

Benar kata teman saya.
"Tulislah pemikiranmu"

Ditambah lagi dengan statusnya Ippho santosa
"Bila kau membaca buku maka kau akan mengenal dunia, dan bila kau menulis buku maka kamu akan dikenal dunia"

Karena itulah mulai sekarang, tiap malam saya akan menyempatkan untuk menuliskan pemikiran dan inspirasi saya hari ini.

Meski hanya satu topik saja. dan bagusnya cukup satu topik saja

Judul yang tepat untuk pemikiran saya hari ini (2 November 2011) adalah :

Milikilah tujuan hidup, dan bertanggung jawablah.

Bagi sebagian orang mungkin ini topik yang biasa saja. tapi bagi saya ini adalah sebuah pemikiran baru. Pemikiran yang akan mengubah sudut pandang terhadap arti dari sebuah tugas dan tanggung jawab.
Suatu hari saya teman saya pernah berkata pada saya " Kalau memikirkan sesuatu itu jangan setengah - setengah. Selesaikan saat itu juga". Dan perkataan itu memicu sebuah pemikiran dari dalam otak saya.

Benar kata teman saya itu. Saya biasanya kalau melakukan sesuatu memang setengah - setengah dan gak fokus. Apakah karena malas ? enggak juga ah, kadang - kadang saya bisa lembur semalaman untuk mengerjakan tugas. Terus karena apa?
Saya mencoba mendalami dan mencari tahu. Apa sih yang mendasari semua itu?

Setelah berpikir dan melakukan berbagai pertimbangan mendalam, akhirnya saya merumuskan bahwa penyebab utama saya mengerjakan secara setengah - setengah adalah tidak adanya tujuan dan rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tugas. Saya mengerjakan tugas hanya karena disuruh atau dimintai tolong saja. Saya belum berpikir makna sebenarnya dari tujuan tersebut.

Dan semenjak itu saya bertekad untuk selalu mencari tahu semua manfaat dan tujuan sebelum melakukan sesuatu. Sekecil apapun itu mantapkanlah. Karena sebuah peluang yang bagus membutuhkan pondasi yang bagus. Dan pondasi yang bagus hanyalah bisa didapat dari mengerjakan setiap hal - hal kecil tersebut dengan mantap dan penuh rasa tanggung jawab.

jika bukan kita sendiri yang bertanggung jawab dan menghargai diri kita sendiri terus siapa lagi? Kamu? Teman - temanmu? Orang tuamu? Pecahkan saja gelasnya biar ramai!

ane galau gan

Jumat, 09 September 2011


Galau,,,,,,
entah kenapa nek soal ngurusin skripsi membuat saya galau seketika. Tapi sebenere penasaran juga dengan makna galau. Sejatinya itu galau tu opo2an sih. Apakah saat gandum dicampur telur dan dikocok jadiin adonan terus di oven 10 menit terus,,,,

TARA,,,,,,,
"This is it, Cake Galau by chef Far** Que*n". Dan sule pun menjawab "O,,, Tidak bisa".

Kalau menurut ane sendiri, galau itu saat munculnya berbagai emosi negatif terhadap suatu hal. misalnya nih, waktu agan - agan mau quick reply di kaskus. Terus udah ngetik panjang - panjang. Eh kaskus kepenuhan ato maintenance. Lalu keluarlah FFFUFUFUFUFUFUFFU face ala rage comic.

Tapi emang somehow galau itu seringnya nyerempet ke soal cinta.
Cieee,,, yang udah gak jomblo,,, cieciecie,,,,,,

Nah, ngatasinnya gimana noh bang?

Lha iki bro, tak kandani carane :

1. 1. Tuliskan kegalauanmu sebabsurd dan aneh mungkin. Pake semua bahasa dan semua imajinasi bod0hmu!!! Dan akhirnya pola kegalauanmu rusak. Akhirnya gak jadi galau deh.

2. 2. Nonton standup comedynya raditya dika. Hahaha. Ngakak abis. Meski jujur aku taunya telat. Tapi recommended lah .

3 Ato buat yang lagi diet mending keliling kampus 15 kali sampe selesai atau sampai pingsan. Anda boleh memilih salah satu kondisi.

4. Dll.

Hehe,,, intinya sih ini cuman curhatan galau bin gak jelas. Jangan dimasukin hati, apalagi dimasukin ginjal.

Enjoyyyyyy.

Dokter Keluarga

Kamis, 08 September 2011


Batasan dan Ruang Lingkup

Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan primer yang komprehensif, kontinu, mengutamakan pencegahan, koordinatif, mempertimbangkan keluarga, komunitas dan lingkungannya dilandasi ketrampilan dan keilmuan yang mapan

Pengertian dan Ruang Lingkup Pelayanan Dokter Keluarga

Pelayanan dokter keluarga melibatkan Dokter Keluarga sebagai penyaring di tingkat primer sebagai bagian suatu jaringan pelayanan kesehatan terpadu yang melibatkan dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder dan rumah sakit rujukan sebagai tempat pelayanan rawat inap, diselenggarakan secara komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif dengan mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungannya serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memilah jenis kelamin, usia serta faktor-faktor lainnya.
(The American Academy of Family Physician, 1969; Geyman, 1971; McWhinney, 1981)

Karakteristik Dokter Keluarga

Lynn P. Carmichael (1973)

  • Mencegah penyakit dan memelihara kesehatan
  • Pasien sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat
  • Pelayanan menyeluruh, mempertimbangkan pasien dan keluarganya
  • Andal mendiagnosis, tanggap epidemiologi dan terampil menangani penyakit
  • Tanggap saling-aruh faktor biologik-emosi-sosial, dan mewaspadai kemiripan penyakit
Debra P. Hymovic & Martha Underwood Barnards (1973)
  • Pelayanan responsif dan bertanggung jawab
  • Pelayanan primer dan lanjut
  • Diagnosis dini, capai taraf kesehatan tinggi
  • Memandang pasien dan keluarga
  • Melayani secara maksimal
IDI (1982)
  • Memandang pasien sebagai individu, bagian dari keluarga dan masyarakat
  • Pelayanan menyeluruh dan maksimal
  • Mengutamakan pencegahan, tingkatan taraf kesehatan
  • Menyesuaikan dengan kebutuhan pasien dan memenuhinya
  • Menyelenggarakan pelayanan primer dan bertanggung jawab atas kelanjutannya

Tujuan Pelayanan Dokter Keluarga

Skala kecil:

  • Mewujudkan keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga
  • Mewujudkan keluarga sehat sejahtera
Skala besar:
  • Pemerataan pelayanan yang manusiawi, bermutu, efektif, efisien, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia

Dokter Keluarga di Indonesia

Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1981 yakni dengan didirikannya Kelompok Studi Dokter Keluarga. Pada Tahun 1990 melalui kongres yang kedua di Bogor, nama organisasi dirubah menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI). Sekalipun organisasi ini sejak tahun 1988 telah menjadi anggota IDI, tapi pelayanan dokter keluarga di Indonesia belum secara resmi mendapat pengakuan baik dari profesi kedokteran ataupun dari pemerintah.
Untuk lebih meningkatkan program kerja, terutama pada tingkat internasional, maka pada tahun 1972 didirikanlah organisasi internasional dokter keluarga yang dikenal dengan nama World of National College and Academic Association of General Practitioners / Family Physicians (WONCA). Indonesia adalah anggota dari WONCA yang diwakili oleh Kolese Dokter Keluarga Indonesia.
Untuk Indonesia, manfaat pelayanan kedokteran keluarga tidak hanya untuk mengendalikan biaya dan atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, akan tetapi juga dalam rangka turut mengatasi paling tidak 3 (tiga) masalah pokok pelayanan kesehatan lain yakni:

  • Pendayagunaan dokter pasca PTT
  • Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
  • Menghadapi era globalisasi

Pengembangan Dokter Keluarga di Indonesia

Di Indonesia kebijaksanaan pengembangan pelayanan kedokteran keluarga dilakukan melalui berbagai cara. Dalam beberapa tahun terakhir pada beberapa fakultas kedokteran dari beberapa universitas terkemuka telah dilakukan upaya-upaya untuk mengintegrasikan pelayanan kedokteran keluarga dalam kurikulum pendidikan dokter yakni sesuai dengan anjuran WHO bahwa "family medicine" selayaknya diintegrasikan dalam pendidikan "community medicine" karena kedekatannya. Akan masih diperlukan waktu untuk mendapatkan tetapi produk dari sistem pendidikan kedokteran ini yakni dokter umum lulusan fakultas kedokteran yang mempunya wawasan kedokteran keluarga karena kebijakan ini baru dikembangkan.

Sementara itu bagi dokter umum lulusan fakultas kedokteran sebelumnya yang saat ini ada di masyarakat, untuk mendapatkan kompetensi khusus selaku dokter keluargaharus dilakukan dengan cara mengikuti pelatihan secara terprogram dan bekesinambungan. Dalam beberapa tahun terakhir telah banyak dilakukan program dan upaya konversi dari dokter umum menjadi dokter keluarga yang bersertifikat dan diakui melalui pelatihan-pelatihan. Kurikulum yang telah disepakati dari hasil rumusan kerjasama tripartid pengembangan dokter keluarga (IDI / KDKI-FK-Depkes) meliputi empat paket, yaitu :
Paket A: pengenalan konsep kedokteran keluarga,
Paket B: manajemen pelayanan kedokteran keluarga,
Paket C: ketrampilan klinik praktis,
Paket D: pengetahuan klinik mutakhir yang disusun berdasarkan golongan usia.

Peranan Dokter Keluarga dalam JPKM

Dokter keluarga mempunyai peran yang strategis dalam penatalaksanaan pelayanan kesehatan. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan individu dan keluarga serta masyarakat yang bermutu namun terkendali biayanya dimana hal ini tercermin dari tata laksana pelayanan kesehatan yang diberikannya.

Keberhasilan penatalaksanaan pelayanan kesehatan yang dikenal sebagai JPKM itu, pada dasarnya dipengaruhi oleh sejauh mana masalah pembangunan kesehatan itu dapat diatasi dan ditata. Masalah dalam sistem kesehatan nasional pada dasarnya terdiri dari masalah pada sub sitem pelayanan kesehatan dan masalah pada sub sistem pembiayaan kesehatan. Termasuk dalam masalah pada sub sistem pelayanan kesehatan adalah; komersialisasi pelayanan kesehatan, menurunnya etos profesional serta pelanggaran atas norma dan etika kedokteran. Sedangkan hal-hal yang termasuk dalam masalah pembiayaan kesehatan adalah; tingginya tingkat inflasi kesehatan, perubahan pola penyakit mengarah ke degeneratif dan kronis, pola pelayanan yang fragmentatif, pola hubungan dokter-pasien yang melonggar, dan mekanisme pembiayaan yang masih tunai, perseorangan dan "out of pocket"

Dari konteks ini pelayanan dokter keluarga mempunyai posisi yang strategis dalam keberhasilan penatalaksanaan pembangunan kesehatan karena perannya dalam penatalaksanaan sub sistem pelayanan kesehatan dari orientasi kuratif ke orientasi komprehensif dengan mengedepankan aspek promotif-preventif seimbang dengan kuratif-rehabilitatif, pelayanan yang fragmentatif ke pelayanan yang integratif berjenjang, dengan tingkat primer sebagai ujung tombak, serta perannya dalam penatalaksanaan sub sistem pembiayaan kesehatan yakni kesediaannya untuk menerima pembayaran secara prospektif yang juga bermakna pengendalian biaya pelayanan kesehatan. Konsep ini meletakkan peran dokter keluarga yang sangat penting sebagai PPK JPKM yang sadar mutu dan sadar biaya pelayanan kesehatan. Dalam hubungan itulah pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan yang memberi peran penting terhadap pengembangan dokter keluarga yakni Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 56/Menkes/SK/I/1996 mengatur Dokter Keluarga dalam pengelolaan JPKM serta Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 916/Menkes RI/Per/VII/1997 yang mengatur agar praktek dokter umum dan dokter gigi diarahkan ke dokter keluarga.

sumber : http://www.ppjk.depkes.go.id