Teori Demand-Supply dalam Percintaan

Senin, 08 Oktober 2012


Artikel ini saya ambil dari malesbanget.com. cuman kopi paste doang sih. tapi semoga bermanfaat.


Demand

Demand atau permintaan dalam percintaan adalah hubungan antara seberapa tinggi nilai diri kamu dalam dunia pencarian jodoh dan orang-orang yang menurut kamu pantas menjadi pacar kamu. Semakin tinggi nilai kamu, maka semakin sedikit orang-orang yang menurut kamu pantas buat kamu (Bisa jual mahal gitu).
Supaya lebih jelas, kita pake grafik ama contoh kasus aja deh ya.

Natasha adalah cewe jomblo umur 23 tahun. Cantik, tinggi, badannya oke. Lagi nyelesein S2, ngambil mikrobiologi di Amrik. Hobinya masak sama ngelukis. Kalo lagi senggang, dia suka baca buku-buku berat dan nonton film item putih. Manis, baik hati dan humoris.
Sedangkan Dodi adalah cowo jomblo umur 24 tahun. Muka pas-pasan, mandi kalo mau pergi doang. Boro-boro kerja, S1 aja belom kelar. Hobinya tidur, sama main gaple. Urakan, sembarangan, kalo ngutang suka gak bayar.
Dari kedua contoh diatas, ketauan kan mana yang nilainya lebih tinggi. Nah, Natasha sebagai individu yang memiliki nilai tinggi, kalo nyari pacar tentunya pengen yang selevel dong. Terus orang yang selevel dan pantas buat dia berapa sih? Dikit kan. Taro paling lah 5 gitu.
Sedangkan si Dodi, dengan atributnya yang kayak gitu pasti nilainya gak oke lah ya. Karena dia tau diri, dia gak pasang standar tinggi-tinggi lah kalo cari pacar. Dia nyari yang mau menerima dia apa adanya aja. Nah karena dia gak pasang standar tinggi, dia pikir banyak nih yang bisa masuk. Jadi taro lah ada 20 gitu gitu.
Cukup jelas lah ya. Oke sip. Lanjut.

Supply

Kalo Supply atau Penawaran dalam dunia percintaan, adalah hubungan gimana orang-orang menilai diri kamu, dan berapa orang yang mau pacaran sama kamu. Semakin tinggi nilai kamu, semakin banyak orang-orang yang mau pacaran sama kamu.
Kita liat kurvanya biar lebih jelas ya.
Lanjut dari contoh yang tadi, Natasha dengan segala ke-oke-annya dia itu, pasti dianggep sebagai High Quality Jomblo. Karena dia super oke, banyak yang naksir sama dia dan pengen jadi pacarnya. Ya taro lah ada 20 gitu.
Sedangkan si Dodi, karena kualitasnya dia yaa.. Segitu doang, siapa sih yang mau sama dia. Dikit doang kan. Misalnya kita taro angka 5 gitu.
Ngerti ya sampe sini. Lanjut.

Equilibrium 

Titik equlibrium adalah titik dimana demand dan supply bertemu. Kalo dalam percintaan ya ibaratnya “Gayung Bersambut” lah. Apa yang kamu cari pas dengan yang mencari kamu. Cie.
Natasha sama Dodi, titik Demand sama Supply-nya kan ga ketemu tuh. Artinya apa ? Ya artinya mereka masih jomblo. Natasha sih yang naksir banyak, tapi dia jual mahal gitu, gimana mau jadi. Sedangkan si Dodi, dia sih anaknya obralan, tapi gak ada yang mau sama dia. Akhirnya ya gak ada yang jadi juga.
Jadi saran MBDC nih, kalo misalnya kamu ngerasa oke tapi masih jomblo juga, ya jangan terlalu picky deh jadi orang. Dan kalo kamu gak laku-laku, coba introspeksi diri, kamu oke gak? Kalo kurang oke coba usaha gimana caranya biar jadi oke.
Gimana, Ngerti kan ya? Teori asal-asalan gini doang pasti kamu ngerti lah ya. Tapi kalo kamu punya pertanyaan, kritik, masukan atau bantahan yang konkrit mengenai teori ini, isi comment ya.
DISCLAIMER: Tokoh-tokoh yang kami gunakan sebagai contoh dalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama dan kondisi, maka itu hanyalah kebetulan. Atau keajaiban. Kalo kamu merasa kamu adalah Natasha, harap segera hubungi MBDC. Mungkin ini pertanda.


Sumber: http://malesbanget.com/2012/10/teori-demand-supply-dalam-percintaan/#ixzz28hihilKg
Copyright Malesbanget.com 2011
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial No Derivatives

Rancangan penelitian

Senin, 02 April 2012

Rancangan penelitian adalah rencana, mengenai strategi dan struktur mengenai suatu penelitian. Dalam penelitian sebaiknya sudah ditetapkan jenis penelitian apa yang akan dipakai. Penetapan jenis penelitian ini merupakan hal yang esensial dalam sebuah penelitian. Rancangan penelitian akan menentukan langkah – langkah apa saja yang harus ditempuh seorang peneliti untuk memperoleh jawaban dari pertanyaannya. Rancangan penelitian juga akan mencakup mengenai metode, pengukuran, dan analisis apa yang akan digunakan dalam sebuah penelitian.

Secara garis besar suatu penelitian dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu deskriptif dan analitik. Penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang hanya memaparkan suatu kejadian atau suatu kasus. Jenis penelitian ini meliputi Studi kasus dan laporan kasus. Penelitian ini bermanfaat sebagai sumber bagi penelitian – penelitian yang lebih dalam. Dari penelitian deskriptif ini didapatkan berbagai informasi yang sangat berharga dan dapat digunakan untuk melakukan penelitian analitis yang lebih mendalam. Meskipun beberapa pihak menganggap penelitian ini sebagai hal yang sepele tetapi tanpa penelitian jenis ini akan sulit bagi peneliti untuk mengembangkan penelitian yang lebih dalam lagi.

Sedangkan penelitian analitik mendasarkan pada kekuatan hubungan dalam suatu permasalahan. Penelitian analitik dibagi menjadi dua bagian lagi yaitu obsevational dan eksperimental. Pembagian jenis penelitian tersebut didasarkan pada tingkat intervensi dari peneliti. Pada penelitian observasional peneliti hanya akan melihat dan mengamati tanpa melakukan tindakan pada subjek penelitian. Sedangkan pada penelitian eksperimental peneliti akan melakukan intervensi untuk kemudian diamati efek yang akan terjadi. Penelitian eksperimental memiliki hambatan yang lebih tinggi daripada sekadar penelitian observational terutama bila subjek yang diteliti adalah manusia.

Pemilihan rancangan penelitian sangat ditentukan oleh masalah utama dalam sebuah penelitian itu sendiri. Penelitian deskriptif dimaksudkan sebagai jawaban atau laporan dari sebuah kasus. Peneliti tidak memerlukan uji statistik untuk mengetahui kekuatan korelasi dari penelitian faktor – faktor yang mempengaruhi kasus tersebut. Peneliti hanya perlu memaparkan apa yang terjadi dalam sebuah kasus.

Penelitian analitik dimaksudkan untuk memberikan keterangan lebih mengenai hubungan antar faktor resiko dengan efek yang muncul. Pada penelitian analitik perlu ditentukan juga sejauh mana keterlibatan atau intervensi dari peneliti. Masalah biaya dan waktu penelitian juga harus menjadi bahan pertimbangan. Karena sebagian besar subjek penelitian kesehatan adalah manusia, maka pertimbangan etik menjadi suatu pertimbangan yang sangat essensial.

BU

Jumat, 03 Februari 2012

BU atau biasa dikenal orang dengan kata BUTUH UANG!!!

kemarin waktu lagi asik - asiknya denger kuliah semester pendek tiba - tiba dapet kabar kalo yang Skripsi nya masih "TUNDA" harus bayar SPP semester 8. dan hari kemarin itu hari terakhir. Ugh,,, langsung galau akut deh.
padahal cuman skripsi doang sih. itupun insya allah maret juga udah selesai. tapi ya mau gimana lagi. Terpaksanya pake duit tabungan deh.

Abis jumatan, dengan duit 1.150.000 di dompet langsung capcuss ke bank permata di Slamet Riyadi Solo. alhamdulillah tidak terlalu ramai. Tapi bayarnya disuruh kolektif ternyata dan saya yang suruh ngumpulin. Langsung berlagak ala debt collector. Setelah ngurus sana - sini akhirnya semuanya selesai juga sih,,,
Fiuhh,,,,
untung dibantuin mbak - mabk permata yang cantik - cantik. *make up bisa melakukan banyak hal.

Masih galau juga ini sebenernya. banyak hal yang harus dilakukan.
Bener kata pak tung desem waringin "Investasi terbaik itu investasi leher ke atas". jadi kalo masih punya waktu, tenaga, dan uang mending dipake untuk pendidikan. Kalo jadi pinter kan hidupnya bakal jauh lebih enak.

Anyway, entah kenapa solo jadi dingin. Berasa di antartika. *tarik selimut

Gangguan Paru pada Lingkungan Kerja:

Jumat, 06 Januari 2012


Penyakit paru lingkungan adalah berbagai jenis penyakit paru yang terjadi akibat individu - individu yang hidup di area lingkungan tertentu dan menghirup udara yang sudah tercemari oleh bahan - bahan yang berbahaya bagi kesehatan (beberapa macam gas, partikel, bahan - bahan toksis, berbagai macam debu dan sebagainya). Lingkungan tertentu tadi termasuk tempat kerja bagi para pekerja suatu pabrik dimana pabrik tersebut mengeluarkan bahan - bahan yang mencemari lingkungan kerja. Penyakit paru tertentu dan mempunyai ciri dimana penyakit tersebut mengalami eksaserbasi atau memberat saat individu berada di tempat kerja dan berkurang atau hilang saat meninggalkan tempat kerja disebut penyakit paru kerja. Misalnya, serangan asma bronkial selalu timbul saat individu berada di tempat kerja dan hilang (berkurang) setelah meninggalkan tempat tersebut disebut asma kerja (occupational asthma).

Respons paru terhadap pencemaran udara napas tadi bervariasi karena ada berbagai faktor (risiko) ikut berpengaruh. Demikian pula perjalanan penyakit maupun kelainan fisik yang terjadi juga bervariasi tergantung beberapa faktor.

Beberapa faktor determinan etiologi dari penyakit paru lingkungan antara lain:

1. Jenis Polutan ( gas, asap, debu inorganik dan anorganik, bahan toksis dan sebagainya)

2. Intensitas dan lamanya paparan.

3. Konsentrasi bahan polutan di udara lingkungan/ tempat kerja

Kelainan fisis paru yang dijumpai pada pemeriksaan fisik pasien adalah bervariasi, mengingat perubahan fisis individu terpapar debu inorganik dapat bervariasi. Hal ini jelas karena debu inorganik yang dikeluarkan oleh suatu pabrik suatu saat dapat bermacam - macam komposisinya. Kelainan fisik yang sering dijumpai misalnya:

1. Suara mengi, ekspirasi diperpanjang, ronki kering menggambarkan adanya obstruksi saluran nafas.

2. Ronki basah, batuk dan demam, menggambarkan adanya infiltrat (pneumonia/ pneumonitis).

3. Keredupan sebagian toraks, restraksi interkosta, suara napas mengurang, mungkin terdapat fibrosis paru.

Penyakit paru lingkungan yang disebabkan oleh inhalasi kronis debu inorganik ataupun bahan - bahan partikel yang berasal dari udara lingkungan atau tempat kerja disebut pneumokoniasis. Yang menimbulkan pneumokoniosis kebanyakan adalah debu asbes, silika, batu - bara, berilium, bauksit, besi/ baja dan lain - lain. Sesudah debu inorganik dan bahan partikel terinhalasi akan melekat pada permukaan mukosa saluran nafas karena tempat tersebut basah sehingga mudah ditempeli debu.

Pada awalnya paru memberikan respons berupa inflamasi dan fagositosis terhadap debu oleh makrofag alveolus. Makrofag memfagositosis debu dan membawa partikel debu ke bronkiolus terminalis. Di situ dengan gerak mukosiliar debu diusahakan keluar dari paru. Sebagian partikel debu diangkut ke pembuluh limfe sampai limfonodi regional di hilus paru. Bila paparan debu banyak, dimana gerak mukosiliar sudah tidak mampu bekerja, maka debu/ partikel akan tertumpuk di permukaan mukosa saluran nafas. Hingga akhirnya partikel debu akan tersusun membentuk anyaman kolagen dan fibrin. Hal tersebut akan menyebabkan saluran nafas menjadi kaku dan compliance paru akan menurun. Sesudah terjadi pneumokoniosis (paparan debu sudah hilang) maka fibrosis paru yang sudah terjadi tidak dapat hilang.

Debu silika mempunyai sifat yang lain. Debu silika yang terhirup udara nafas sampai di mukosa saluran nafas yang terfagositosis oleh makrofag tadi dapat memberikan efek toksis. Makrofag selanjutnya akan mengalami disintegrasi dan mengeluarkan bahan - bahan kimia yang dapat mengaktifkan makrofag yang lain. Bila makrofag baru (aktif) dan memfagositosis partikel debu silika, dia akan mengalami proses serupa dan seterusnya. Karena makrofag banyak rusak, menyebabkan daya tahan individu berkurang, dan mungkin inilah yang menyebabkan pasien silikosis mudah terinfeksi kuman tuberkulosis dan terbentuk siliko-tuberkulosis.

Beberapa partikel debu (asbes, silika, batu - bara) mempunyai kemampuan menembus interstisium. Dengan lanjutnya penyakit, alveolus dan kapiler paru yang berdekatan menjadi rusak dan diganti fibrosis atau struktur seperti kista. Beberapa kista yang terbentuk, masing - masing berdiameter 1 cm, membentuk bangunan seperti sarang lebah. Pada kasus berat dan umumnya yang terjadi seperti asbestosis terjadi penebalan fibrotik dan kalsifikasi pleura membentuk fibrocalcific pleural plaques. Kelainan patologis ini sering juga mengenai diafragma. Beberapa bahan iritan dalam lingkungan ada pula yang bersifat karsinogenik.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pneumokoniosis menimbulkan penyakit paru restriktif. Oleh karena debu inorganik dan bahan - bahan partikel dapat tertumpuk di saluran nafas kecil dan dapat menimbulkan imflamasi kronis atau pembengkakan mala dapat terjadi obstruksi bronkus atau timbul penyakit paru obstruktif. Dapat pula pada suatu kasus pneumokoniosis terdapat kombinasi kelainan obstruktif dan restriktif.

Sumber : Ilmu Penyakit Dalam FKUI, PAPDI

Evaluasi diri part #1 : Satu - satunya yang berhak mengevaluasi kita adalah diri kita sendiri

Kata evaluasi sudah sering kita dengar. Bahkan sejak duduk di bangku SD dengan seragam putih merah dan tas gendong. Biasanya berkorelasi erat dengan Ulangan, THB, UUB maupun ujian catur wulan. Hayo, masih ingat istilah "catur wulan" gak?

Atau jaman - jaman masih ngerjain LKS. Pasti di halaman belakangnya ada bagian Evaluasi. Kalau waktu saya SD(SD saya di jogja) LKS yang terkenal tu namanya "ULTRA". Itu bagus banget dari bobot ma cara njelasinnya.

Nah, sejak dulu kita terajarkan untuk selalu di evaluasi oleh guru/ orang tua kita. Misal ada PR atau ulangan matematika yang ngoreksi guru/ ortu kita. Jadi terkesan bahwa orang yang berhak untuk mengevaluasi hasil kegiatan "hanya"lah orang - orang yang lebih tua, lebih bijak, atau lebih tahu dari diri kita.

Untuk konteks akademis saya rasa tidak masalah. Memang mereka yang lebih tahu dan yang bertanggung jawab atas pembelajaran kita.

Tapi, pernahkah anda bertanya, " Bagaimana seandainya kita sendiri yang mengevaluasi diri kita sendiri ?"

Hal inilah yang ingin saya bahas disini.

Melakukan evaluasi diri bisa dibilang gampang - gampang susah. Dibilang gampang karena sejatinya kita sering melakukannya. Dibilang susah karena kita jarang sekali menyadarinya. Padahal jika kita bisa membuat evaluasi diri ini menjadi sesuatu yang berkesinambungan bukan tidak mungkin produktivitas kita bisa meningkat hingga berkali - kali lipat.

Secara garis besar kegiatan evaluasi terdiri dari review dan pembandingan. Review adalah kegiatan melihat kembali suatu kejadian. Pembandingan adalah kegiatan membandingkan kondisi ideal/ kondisi yang benar dengan kondisi yang ada.

Mari kita ambil contoh kegiatan seorang guru yang mengevaluasi/ mengoreksi ujian muridnya. Yang pertama kali dilakukan oleh sang guru tentu saja adalah melihat kembali hasil pekerjaan muridnya. Nomor demi nomor, soal demi soal. Kemudian beliau membandingkan antara jawaban yang benar dengan jawaban muridnya. Dari situ beliau bisa tahu tingkat kompetensi muridnya.

Dengan begitu kita bisa tahu point - point dari pekerjaan kita yang perlu diperbaiki.

Tetapi akan terasa kurang imbang jika kita hanya melihat dari kekurangan saja. Oleh karena itu dalam langkah mengevaluasi diri kita perlu menambah satu lagi. Yaitu pembelajaran.

Pembelajaran inilah yang akan menjadikan langkah evaluasi diri ini akan jauh menambah produktivitas kita. Jadi setelah me review kegiatan yang kita lakukan, akan lebih baik jika kita juga mencari pembelajaran apa saja yang bisa kita ambil. Sesimpel dan semudah itu sebenarnya. Dan akan lebih baik lagi jika anda konsisten melakukannya. Evaluasi memang dimaksudkan agar kita tetap "Keep on the track". Sehingga ke evaluasi akan menjadi lebih efektif kalau dilakukan dalam fokus yang lebih kecil tapi konsisten. Evaluasi yang dilakukan tiap hari akan lebih efektif daripada evaluasi yang dilakukan tiap minggu. Untuk penjelasan lebih lanjut akan saya jelaskan di notes selanjutnya. *Supaya tidak terlalu mbleber kemana - mana. ^^

Kemudian, kenapa diri kita sendiri yang harus melakukan evaluasi ?

Ya, karena yang paling tahu permasalahan dan kondisinya adalah diri kita sendiri. Dan solusi terbaik tentu saja dari diri kita. Manfaat lainnya adalah agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu kejadian dalam hidup kita. Bisa juga agar kita tetap bersyukur jika mendapat nikmat.

Melakukan evaluasi secara teratur membuat kita bisa tetap bersyukur dan mengambil banyak pelajaran jika mendapat suatu masalah atau musibah. Kita juga terhindar dari sifat sombong dan takabur saat mendapat sebuah nikmat yang tak diduga. Dengan melihat kembali sebuah permasalahan tentu saja akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tindakan kita dan apa yang akan kita lakukan.

Melakukan evaluasi diri juga akan sangat membantu kita bertindak sesuai dengan kondisi yang ada. Seperti yang kita tahu bahwa ketika kita mengevaluasi diri kita sendiri kita akan mengambil sudut pandang orang ketiga. Artinya, kita melihat secara objektif tindakan apa yang sudah kita lakukan. Dengan begitu kita bisa lebih bijak dalam melihat suatu permasalahan yang kita alami. Tanpa ada perasaan gengsi, emosi, takut, atau semacamnya.

Contoh kasusnya seperti ini :

Ini kisah saya sendiri mungkin sekitar setahun yang lalu. Cukup bagus untuk dijadikan pembelajaran.

Jadi, waktu itu saya ditugasi untuk menjadi layouter majalah kampus. Tetapi karena memang jumlah orang yang bisa me-layout itu sedikit maka pekerjaan tersebut memakan waktu yang lama. Kemudian saya mengajak/ minta bantuan dari beberapa teman saya. Bahkan mereka sampai rela menginap di kampus. Tapi karena waktu itu saya tidak memberi arahan yang jelas akhirnya mereka hanya main game saja semalaman. Dan saya tetap mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri. Bahkan hingga jam 5 pagi.

Waktu itu saya merasa cukup kesal karena teman - teman saya tidak peduli. Meski saya juga menyadari mereka sebenarnya sangat ingin membantu tapi bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya saya merasa mengerjakan pekerjaan itu sendirian dan malah capek sendiri.

Itu dulu,,,,
tapi setelah saya melakukan evaluasi terhadap diri saya sendiri, akhirnya saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan tersebut. Kalau dilihat secara objektif sebenarnya banyak hal yang bisa diperbaiki dari diri saya terlebih dahulu. Dengan kemampuan layout yang cukup lumayan (Pada jaman itu,,,) akan lebih baik jika sebelum saya menerima pekerjaan layout tersebut saya mengajari beberapa orang terlebih dahulu. Kemudian saya juga bisa meminta untuk dibuatkan tim khusus yang akan berkonsentrasi di bidang layouting. Sehingga beban pekerjaan tidak terlalu berat. Dan juga jangan terlalu idealis dan sombong bahwa kita bisa melakukan semuanya sendiri. Mengkomunikasikan dengan orang lain akan sangat membantu karena akan membuka peluang saya untuk mendapat bantuan teknis. Jadi kita bisa mengerjakan pekerjaan layout tersebut bareng - bareng dan mungkin bisa main game bareng juga.

Intinya adalah, dengan kita mengevaluasi diri kita sendiri akan membuat persepsi yang jauh lebih baik tentang suatu permasalahan. Karena solusi yang terbaik tentu saja berasal dari diri kita sendiri. Logikanya, bagaimana kita bisa menghakimi atau mengevaluasi orang lain jika kita sendiri tidak bisa atau terlalu sombong untuk mengakui kekurangan dan belajar dari tindakan kita sendiri. Lagipula manusia memang tidak ada yang sempurna dan karena itulah manusia bisa belajar dan mengembangkan diri dengan ketidaksempurnaannya. Saya sendiri juga masih banyak belajar untuk bisa mengenali diri sendiri kok. ^^

Dan tentu saja,,,, dengan mengevaluasi diri kita sendiri akan membuat kita menjadi jauh lebih SADAR SESADAR - SADARNYA.

SALAM SADAR!!