Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan

Evaluasi diri part #1 : Satu - satunya yang berhak mengevaluasi kita adalah diri kita sendiri

Jumat, 06 Januari 2012

Kata evaluasi sudah sering kita dengar. Bahkan sejak duduk di bangku SD dengan seragam putih merah dan tas gendong. Biasanya berkorelasi erat dengan Ulangan, THB, UUB maupun ujian catur wulan. Hayo, masih ingat istilah "catur wulan" gak?

Atau jaman - jaman masih ngerjain LKS. Pasti di halaman belakangnya ada bagian Evaluasi. Kalau waktu saya SD(SD saya di jogja) LKS yang terkenal tu namanya "ULTRA". Itu bagus banget dari bobot ma cara njelasinnya.

Nah, sejak dulu kita terajarkan untuk selalu di evaluasi oleh guru/ orang tua kita. Misal ada PR atau ulangan matematika yang ngoreksi guru/ ortu kita. Jadi terkesan bahwa orang yang berhak untuk mengevaluasi hasil kegiatan "hanya"lah orang - orang yang lebih tua, lebih bijak, atau lebih tahu dari diri kita.

Untuk konteks akademis saya rasa tidak masalah. Memang mereka yang lebih tahu dan yang bertanggung jawab atas pembelajaran kita.

Tapi, pernahkah anda bertanya, " Bagaimana seandainya kita sendiri yang mengevaluasi diri kita sendiri ?"

Hal inilah yang ingin saya bahas disini.

Melakukan evaluasi diri bisa dibilang gampang - gampang susah. Dibilang gampang karena sejatinya kita sering melakukannya. Dibilang susah karena kita jarang sekali menyadarinya. Padahal jika kita bisa membuat evaluasi diri ini menjadi sesuatu yang berkesinambungan bukan tidak mungkin produktivitas kita bisa meningkat hingga berkali - kali lipat.

Secara garis besar kegiatan evaluasi terdiri dari review dan pembandingan. Review adalah kegiatan melihat kembali suatu kejadian. Pembandingan adalah kegiatan membandingkan kondisi ideal/ kondisi yang benar dengan kondisi yang ada.

Mari kita ambil contoh kegiatan seorang guru yang mengevaluasi/ mengoreksi ujian muridnya. Yang pertama kali dilakukan oleh sang guru tentu saja adalah melihat kembali hasil pekerjaan muridnya. Nomor demi nomor, soal demi soal. Kemudian beliau membandingkan antara jawaban yang benar dengan jawaban muridnya. Dari situ beliau bisa tahu tingkat kompetensi muridnya.

Dengan begitu kita bisa tahu point - point dari pekerjaan kita yang perlu diperbaiki.

Tetapi akan terasa kurang imbang jika kita hanya melihat dari kekurangan saja. Oleh karena itu dalam langkah mengevaluasi diri kita perlu menambah satu lagi. Yaitu pembelajaran.

Pembelajaran inilah yang akan menjadikan langkah evaluasi diri ini akan jauh menambah produktivitas kita. Jadi setelah me review kegiatan yang kita lakukan, akan lebih baik jika kita juga mencari pembelajaran apa saja yang bisa kita ambil. Sesimpel dan semudah itu sebenarnya. Dan akan lebih baik lagi jika anda konsisten melakukannya. Evaluasi memang dimaksudkan agar kita tetap "Keep on the track". Sehingga ke evaluasi akan menjadi lebih efektif kalau dilakukan dalam fokus yang lebih kecil tapi konsisten. Evaluasi yang dilakukan tiap hari akan lebih efektif daripada evaluasi yang dilakukan tiap minggu. Untuk penjelasan lebih lanjut akan saya jelaskan di notes selanjutnya. *Supaya tidak terlalu mbleber kemana - mana. ^^

Kemudian, kenapa diri kita sendiri yang harus melakukan evaluasi ?

Ya, karena yang paling tahu permasalahan dan kondisinya adalah diri kita sendiri. Dan solusi terbaik tentu saja dari diri kita. Manfaat lainnya adalah agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu kejadian dalam hidup kita. Bisa juga agar kita tetap bersyukur jika mendapat nikmat.

Melakukan evaluasi secara teratur membuat kita bisa tetap bersyukur dan mengambil banyak pelajaran jika mendapat suatu masalah atau musibah. Kita juga terhindar dari sifat sombong dan takabur saat mendapat sebuah nikmat yang tak diduga. Dengan melihat kembali sebuah permasalahan tentu saja akan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tindakan kita dan apa yang akan kita lakukan.

Melakukan evaluasi diri juga akan sangat membantu kita bertindak sesuai dengan kondisi yang ada. Seperti yang kita tahu bahwa ketika kita mengevaluasi diri kita sendiri kita akan mengambil sudut pandang orang ketiga. Artinya, kita melihat secara objektif tindakan apa yang sudah kita lakukan. Dengan begitu kita bisa lebih bijak dalam melihat suatu permasalahan yang kita alami. Tanpa ada perasaan gengsi, emosi, takut, atau semacamnya.

Contoh kasusnya seperti ini :

Ini kisah saya sendiri mungkin sekitar setahun yang lalu. Cukup bagus untuk dijadikan pembelajaran.

Jadi, waktu itu saya ditugasi untuk menjadi layouter majalah kampus. Tetapi karena memang jumlah orang yang bisa me-layout itu sedikit maka pekerjaan tersebut memakan waktu yang lama. Kemudian saya mengajak/ minta bantuan dari beberapa teman saya. Bahkan mereka sampai rela menginap di kampus. Tapi karena waktu itu saya tidak memberi arahan yang jelas akhirnya mereka hanya main game saja semalaman. Dan saya tetap mengerjakan semua pekerjaan itu sendiri. Bahkan hingga jam 5 pagi.

Waktu itu saya merasa cukup kesal karena teman - teman saya tidak peduli. Meski saya juga menyadari mereka sebenarnya sangat ingin membantu tapi bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya saya merasa mengerjakan pekerjaan itu sendirian dan malah capek sendiri.

Itu dulu,,,,
tapi setelah saya melakukan evaluasi terhadap diri saya sendiri, akhirnya saya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan tersebut. Kalau dilihat secara objektif sebenarnya banyak hal yang bisa diperbaiki dari diri saya terlebih dahulu. Dengan kemampuan layout yang cukup lumayan (Pada jaman itu,,,) akan lebih baik jika sebelum saya menerima pekerjaan layout tersebut saya mengajari beberapa orang terlebih dahulu. Kemudian saya juga bisa meminta untuk dibuatkan tim khusus yang akan berkonsentrasi di bidang layouting. Sehingga beban pekerjaan tidak terlalu berat. Dan juga jangan terlalu idealis dan sombong bahwa kita bisa melakukan semuanya sendiri. Mengkomunikasikan dengan orang lain akan sangat membantu karena akan membuka peluang saya untuk mendapat bantuan teknis. Jadi kita bisa mengerjakan pekerjaan layout tersebut bareng - bareng dan mungkin bisa main game bareng juga.

Intinya adalah, dengan kita mengevaluasi diri kita sendiri akan membuat persepsi yang jauh lebih baik tentang suatu permasalahan. Karena solusi yang terbaik tentu saja berasal dari diri kita sendiri. Logikanya, bagaimana kita bisa menghakimi atau mengevaluasi orang lain jika kita sendiri tidak bisa atau terlalu sombong untuk mengakui kekurangan dan belajar dari tindakan kita sendiri. Lagipula manusia memang tidak ada yang sempurna dan karena itulah manusia bisa belajar dan mengembangkan diri dengan ketidaksempurnaannya. Saya sendiri juga masih banyak belajar untuk bisa mengenali diri sendiri kok. ^^

Dan tentu saja,,,, dengan mengevaluasi diri kita sendiri akan membuat kita menjadi jauh lebih SADAR SESADAR - SADARNYA.

SALAM SADAR!!

Pasar LKMI is NOW OPEN !!!!

Selasa, 24 Agustus 2010


Yuppa,,,,,,,,,,,,,,,,
Setelah semaleman begadang buat bikin web jualannya LKMI,,,,
akhirnya jadi juga.

untuk sementara sih cuma jual alat - alat vital sign aja. tapi sebentar lagi bakal di update terus kok.

Selamat berbelanja,,,,,,,,,,,

Segera Kunjungi :
http://pasarlkmi-solo.blogspot.com

Dunia tawar - menawar

Minggu, 25 Juli 2010

hmm,,,,,
akhir - akhir ini saya terlibat dalam berbagai hal tawar menawar. Mulai dari menawar temen BEM supaya deadline ngumpulin artikel diundur, nawar anak2 sie publikasi biar pada dateng rapat, nawar hotel buat pelatihan, hingga sedang berusaha menawar hati seseorang (ciee,,,,,).

dari beberapa pengalaman tersebut, ada banyak hal yang saya pelajari dalam dunia - tawar menawar :
1. kadang akan sangat mudah jika kita bisa berada di posisi "atas". Jadi dia ya ngangguk2 aja.
2. Perilaku manusia itu mempunyai "POLA". jadi sebenarnya bisa diliat pola dari sikapnya akan mengarah ke mana. kalau dia memiliki kecenderungan untuk resisten, tentu saja pola tersebut harus segera diputus.
3. Ubah mindset kita terlebih dahulu. Bukan cuma kita yang butuh, dia juga butuh kok. berusaha Win-win solution.

dan anda tahu?

tidak ada satu pun yang sukses !!!!
hahaha.

tapi tidak apa - apa. hal ini membuat semakin menarik saja.

Titik Hitam di Kertas Putih

Titik di tengah kertas
Tanpa bermaksud meninggalkan bekas
Tanpa bersanding dengan luas
Tlah tercipta oleh kuas
Tak mungkin lagi terlepas

Putih tak lagi bersih
Bersih tak lagi suci
Suci tak ingin mati

Titik hitam di kertas putih
Bukan hitam menuju putih
Tak pula mati dalam bersih

Bukanlah kuasa yang diharapkan
Hanyalah teman yang didambakan
Bersama dalam sebuah lukisan
Menjadi citra dalam sebuah gambaran

Bukan tentang kebenaran maupun kesalahan
Bukan tentang kebahagiaan maupun kutukan
Bukan tentang kehidupan maupun kematian
Hanyalah potongan kecil dari sebuah keseimbangan
(gilda ditya A., 25 Juli 2010)

Thinking Outside the Box

Jumat, 23 Juli 2010

Banyak orang berkata, "Jika kamu ingin menjadi manusia jenius, maka berpikirlah dari sudut pandang berbeda". Mungkin bahasa kerennya bisa disebut juga dengan "Thinking Outside the Box". Layaknya orang - orang cerdas yang bisa mendaur ulang sampah jadi barang bermanfaat atau seperti pembuat majalah Playboy yang memanfaatkan pornografi sebagai tambang uang.

Mengenai hal itu, saya jadi ingat dengan kejadian nyata sekitar 4 tahun lalu. Saat masih kelas XII SMA. Berikut aplikasi nyata apa yang disebut dengan "Thinking Outside the BOX".

***********************************************************************************

Waktu itu saya dan beberapa teman OSN ( Olimpiade Sains Nasional ) V tahun 2006 berwisata ke candi borobudur. Sebuah candi besar yang "sempat" masuk 7 kejaiban dunia dalam waktu lama ( sayang banget ya,,,, ). Dan seperti semua tempat wisata lainnya, para penjual cenderamata pasti akan banyak berdatangan mengerubungi anda. Tentu saja dengan menawarkan beberapa barang dagangan (yang tampak) bagus dengan harga yang agak mahal. Pokoknya gak bakal sesuai dengan kantong anak SMA kelas XII yang buat ke game centre aja masih ngutang.

Sudah bukan rahasia, tipikal pedagang di tempat - tempat ini adalah memaksa, sok tau, dan suka nakut - nakutin anak2. Para temen2 OSN yang memang para pelajar itu juga tidak akan luput dari terkaman pedagang pemaksa tersebut. Pedagang yang saya maksud disini adalah para pedangang miniatur candi borobudur yang "katanya" terbuat dari batu asli.

Nah, jika anak - anak pelajar pada normalnya akan bereaksi seperti ini :
P : Penjual
A : Anak - anak

Tipe A ( Tipe anak sopan dan berwelas asih ). Pedagang Win dan Pembeli Lose

P : Dek, beli patungnya dek. Bagus lho buat oleh2. Terbuat dari batu asli, keras dan awet. Pokoknya bagus dek. Coba pegang dulu deh.
A : Ah maaf banget pak, saya tidak bawa uang. Maaf banget ya pak.
P : Ah, masak dek, murah dek cuman 25.000 saja. Lumayan. Masak jauh2 ke sini gak bawa oleh2, bla,,,bla,,,,bla,,,,

Dan bisa ditebak setelah itu si anak kalah debat dan akhirnya mengeluarkan uang saku satu - satunya untuk membeli barang yang dipertanyakan kegunaannya tersebut.

Tipe B ( Tipe anak tidak sopan dan keras ). Pedagang Lose dan Pembeli Win

P : Dek, beli patungnya dek. Bagus lho buat oleh2. Terbuat dari batu asli, keras dan awet. Pokoknya bagus dek. Coba pegang dulu deh.
A : Ah, males Pak. Gak ada duit. Bapak Cerewet banget sih. Mengganggu aja.
P : Wo,,,,,, dasar gak sopan. Gak bisa ngormatin orang tua. Anak siapa sih,,,, ( diucapkan dengan bahasa jawa kasar/ngoko dan diikuti oleh penyebutan berbagai kingdom animalia )

Ok, di satu sisi si anak sukses untuk menolak pedagang lainnya. Tapi di sisi lain. Hal seperti ini sangat merusak perkembangan mentalnya. Jangan ditiru deh pokoknya. Mau jadi apa bangsa kita ????

Hmm,,,,
Dan saya sendiri ?
Mungkin bisa dibilang

Tipe C ( Tipe anak apatis dan penakut). Lose - lose solution
P : Dek, beli patungnya dek. Bagus lho buat oleh2. Terbuat dari batu asli, keras dan awet. Pokoknya bagus dek. Coba pegang dulu deh.
Saya : mm,,,, ( diam )
P : Mumpung murah lho dek. Kalo di toko bisa mahal.
Saya : ……………………….( masih diem )
P : gimana dek ? kok mulai diem ?
Saya : ………………………………..( tetep diem )
P : dek ?
Saya : dup, dup, dup,,,,, ( tiba - tiba lari ke kamar mandi )

Dan,,,, speechless pokoknya. Disini saya menggunakan prinsip "Silent is money". Namanya juga masih anak - anak,,,,, hehe.

Nah, ketiga tipe tersebut di atas merupakan tipe anak sma pada umumnya. Masih takut dan malu2 ato kalo enggak ya malah malu2in. sama sekali bukan tindakan yang cerdas.

Mari kita perkenalkan teknik terbaru dalam menolak tawaran. Teknik yang sangat jenius dan simpel.

Tipe D ( Anak jenius ). Win - Win Solution

P : Dek, beli patungnya dek. Bagus lho buat oleh2. Terbuat dari batu asli, keras dan awet. Pokoknya bagus dek. Murah cuman 25.000 saja. Mirip banget sama aslinya. Ukurannya juga besar.Pas banget lah buat oleh - oleh. Keras dan terbuat dari batu asli lho. BATU ASLI !!!!
Si jenius : ( terdiam 2 - 3 detik )
Si jenius : Maaf pak. Saya sudah kenyang.
P : ( otaknya langsung not responding. Mulai salto ke depan belakang sambil gigit kaki ).

WOW!!!

Jawaban yang sangat tak terduga bukan ?

Membutuhkan logika yang sangat tinggi untuk mengerti arti dari kalimat tersebut.
Itulah mungkin yang disebut dengan "Berpikir di luar Kotak" ( bahkan nyaris gak pake otak ). Benar - benar di luar logika manusia. Tapi sangat efektif.

After all,,,,
It's so Genious.

PS : saya belum nemu FB nya. Tar kalo nemu pasti tak kasih tau orangnya yang mana. Dan ini benar - benar nyata lho. Serius deh.

Teknik Marketing Artmosf***.

Selasa, 22 Juni 2010

Artmosf*** disini merujuk pada sebuah tempat printing, cetak spanduk, cetak brosur, kaos, dan semacamnya. Terletak di belakang kampus kentingan UNS dengan warna ungu kebanggaannya ( warna janda ). Dan untuk menghindari kena royalti mari kita sebut dengan TP ( Tempat Printing ).

Apa yang menarik dari TP ini ?

Salah satu hal yang paling menarik dari TP ini adalah seringnya mereka menjadi sponsor di banyak acara kampus. Emang gak rugi ?

Dan setelah saya amat - amati dari pengalaman beberapa temen yang acaranya disoponsori oleh TP sebenarnya mereka tidak mendapat hasil yang signifikan dari disponsori oleh TP ini. Bahkan untuk spanduk MMT bisa lebih murah di tempat printing yang gak jauh dari UNS.

Terus kenapa ? Nah disinilah trik marketingnya ( menurut saya ).

Kalau dilihat - lihat harga buat urusan cetak - mencetak di TP ini memang tergolong diatas rata - rata harga di Solo. Dan harga yang diturunkan jika menjadi sponsor juga tidak terlalu signifikan sebenarnya. Dan sebagai informasi tambahan mereka menggunakan perhitungan yang sangat njlimet jika ingin jadi sponsor ( Gratis tiket segini, tapi bayar spanduknya segini, atau dengan membayar segini akan mendapat free ini dan ini, dsb ). Padahal kalo dihitung - hitung dengan mereka menjadi sponsor keuntungan mereka juga masih besar ( karena harganya sudah di atas rata - rata ).
T api kelebihan dari mereka adalah begitu mudahnya mereka menyetujui untuk menjadi sponsor. Bahkan tanpa proposal dan sekedar omong - omong bisa. Sehingga tidak heran jika TP ini menjadi sasaran utama danus suatu event.

Mari kita lihat kondisi kejiwaan sie danus.
Penuh tekanan, tanggung jawab, dan tugas pre acara sangat banyak( disini berlaku prinsip bahwa uang adalah segalanya ). Sehingga akan menjadi sangat wajar jika mereka akan menjadi sangat senang jika ada sebuah perusahaan yang mensponsori mereka. Bagai hujan di tengah - tengah musim kemarau. Dan tanpa pikir panjang mereka senang - senang saja untuk menandatangani kontrak kerjasama.
Hehe,,,,

Nah terlepas dari kondisi kejiwaan dari sie danus suatu event, saya ingin menyorot teknik marketing yang cukup baru dari TP ini. Yaitu dengan MENJADI SPONSOR. Singkatnya begini, naikkan harga rata - rata, kuasai teknik perhitungan yang njlimet, dan jadilah malaikat bagi para sie danus suatu event.
Sebuah teknik yang sepertinya sangat jarang saya temui. Biasanya teknik standar yang dipakai adalah dengan perang harga.

Jadi, Banyak Order, Promosi Gratis, dan Ngeksis Abissss,,,,

Kenapa enggak?